SIKAP APRESIASI SISWA TERHADAP PERTUNJUKAN SENI SANGAT RENDAH Oleh: Ayo Sunaryo, M.Pd.

19 11 2010

 

SIKAP APRESIASI SISWA TERHADAP PERTUNJUKAN SENI SANGAT RENDAH

Oleh: Ayo Sunaryo, M.Pd.

Tulisan ini dibuat karena penulis merasa risih atas sikap apresiasi siswa terhadap seni pertunjukkan. Pengalaman penulis, sudah beberapa kali menyaksikan sikap dan tingkah laku yang dilakukan siswa selama menonton seni pertunjukkan terutama seni pertunjukan yang memerlukan konsentrasi dan kenyamanan untuk dapat mengapresiasinya. Sebagai contoh, pada pergelaran dramatari  yang diadakan oleh mahasiswa Pendidikan Seni Tari UPI di teater tertutup Taman Budaya Jawa Barat beberapa bulan lalu, siswa yang menonton seakan-akan mereka sedang menonton dangdut atau musik underground dengan tingkah lakunya seperti berteriak, mengobrol, hilir mudik, memainkan HP dan menyanyikan yel-yel sehingga mengganggu penonton lainnya yang ingin menyaksikan pertunjukkan dengan hidmat juga jalannya pertunjukkan menjadi terganggu. Terlebih-lebih ketika saya menyaksikan pertunjukan teater islami yang dimainkan oleh teater Senapati Bandung di Gedung Kesenian Rumentang Siang beberapa waktu lalu. Apresiator yang sebagian besar siswa SMP malah menunjukan sikapnya yang kurang enak dipandang dan dilihat, mereka mondar-mandir tak karuan, memainkan HP, menelepon, mengobrol, berteriak dan lain sebagainya tanpa ada guru pembimbing yang berusaha menegur dan menenangkannnya sehingga suasana menjadi tidak karuan padahal yang ditonton adalah mengenai sejarah dan tarekh Islam. Dalam kondisi dan situasi yang kacau pada waktu pertunjukan berlangsung, sutradranya (Rosyid E. Abby) menghentikan pertunjukan untuk sementara waktu dan membuat kesepakatan dengan apresiator, akhirnya sesuai kesepakatan pertunjukkan teater tersebut dilanjutkan lagi.

Kompetensi Apresiasi Seni dalam Pelajaran Seni Budaya

Pengalaman itu tentunya sangat memprihatinkan, bagaimana mungkin siswa yang dibekali berbagai nilai etika, nilai estetika dan pengetahuan tentang seni budaya yang mereka pelajari di sekolah sama sekali tidak nampak dalam kehidupan sehari-hari yang tercermin dalam sikap apresiasi terhadap seni pertunjukkan. Dalam hal ini yang dimaksud apresiasi adalah kegiatan mengamati, merasakan, dan memikirkan karya seni, sebgai bagian dari pengalaman budaya. Seni budaya juga dapat diartikan sebagai sebuah produk sistem simbol yang memberi kontribusi terhadap pengalaman hidup masyarakat dalam berperilaku dan membentuk identitas individu maupun kelompok. Pada pembelajaran seni budaya sebenarnya terdapat kemampuan apresiasi yang harus dikuasai oleh siswa sebagai  salah satu tujuan dari pembelajaran tersebut. Adapun salah satu kemampuan dalam mengapresiasi cukup jelas tertera dalam silabus pelajaran Seni Budaya. Sebagai contoh untuk mata pelajaran Seni Budaya/Seni Teater kelas IX standar kompentensinya adalah mengekspresikan karya seni teater, dengan kompetensi dasar menyiapkan karya pertunjukan kreatif di sekolah dan menggelar pertunjukan karya teater kreatif di sekolah. Dari standar kompentensi tersebut seharusnya siswa merasakan bagaimana membuat karya seni dari mulai proses awal sampai pertunjukan terahir. Sehingga mereka bisa merasakan empati. Jika kompetensi tersebut dapat dikuasai siswa, saya fikir mereka dapat mengapresiasi karya seni sebagai apresiator yang baik. Tapi nyatanya realitas dan harapan para pendidik seni tidak terwujud, atau mungkin saja kompetensi tersebut tidak dilakukan oleh siswa  dan guru di sekolah, artinya guru tidak melaksanakan kompetensi yang terdapat dalam kurikulum pendidikan Seni Budaya.

Tujuan Pendidikan Nasional

Pada tujuan pendidikan nasional tertera dengan jelas bahwa siswa harus memiliki empat kecerdasan, diantaranya adalah cerdas spiritual, cerdas emosional dan sosial, cerdas intelektual dan cerdas kinestetis. Pada aspek cerdas emosional dan sosial sangat jelas makna yang terkandung di dalamnya adalah beraktualisasi diri melalui olah rasa untuk meningkatkan sensitivitas dan apresiasivitas akan kehalusan dan keindahan seni budaya serta kompetensi untuk mengekspresikannya sedangkan beraktualisasi mengenai interaksi sosial diantaranya adalah kompetensi empati dan simpatik yang harus dimiliki oleh siswa.

Jika melihat tujuan pendidikan di atas, tentu saja akan membuat miris, ketika menyaksikan kenyataan tersebut, siswa bukan saja tidak menguasai kompetensi tersebut dengan tidak menunjukan sikap apresiatif pada karya seni,  juga siswa tidak mempunyai rasa empatik dan simpatik terhadap orang lain, yang akhirnya pantas saja tawuran yang dilakukan anak-anak sekolah terjadi dimana-mana.

Semula apresiasi seni menyatu dengan kehidupan atau budaya masyarakat, baik melalui kegiatan keagamaan maupun adat. Bentuk-bentuk seni dipersepsi oleh masyarakat, dalam arti diterima dan diwariskan secara turun temurun dari kegenari ke generasi, dari zaman ke zaman secara alamiah dan berkembang secara organis (Masunah, 2003). Oleh karena itu, apresiasi seni dan budaya harus menjadi bagian yang fungsional dalam dunia pendidikan. Selain itu, pendidikan merupakan bagian dari proses pembudayaan (Tilaar, 1999). Dengan demikian, kegiatan apresiasi seni yang merupakan bagian dari proses pembudayaan sangat penting untuk dilakukan oleh lembaga-lembaga formal yang menyelenggarakan pendidikan. Tentu saja, sebelumnya siswa harus dibekali dengan perangkat-perangkat nilai yang dapat mencerna nilai dari sebuah pertunjukan seni budaya, bukanny menjadi kegiatan yang sis-sia yang tidak dapat merubah perilaku siswa.

Bagaimana Menerapkan Perangkat Nilai Pada Siswa?

Tentunya, saling menyalahkan adalah cara yang kurang arif, yang lebih arif mungkin tugas guru sebagai motivator, fasilitator dan mediator lebih ditingkatkan. Juga tugas kita semua bahwa pendidikan karakter di sekolah dan keluarga sudah selayaknya ditingkatkan agar anak-anak kita menjadi manusia yang dapat menghargai orang lain. Hal-hal lain yang perlu diperhatikan adalah, sebagai berikut.

1.      Dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) di sekolah tentunya ada kompetensi tentang apresiasi seni yang harus dikuasai oleh siswa. Dalam PBM tersebut sebaiknya guru benar-benar menerapkan kompetensi tersebut dalam PBM. Guru membimbing siswa untuk melaksanan pergelaran di dalam kelas atau di luar kelas, sehingga siswa secara langsung melakukan proses tersebut dan tentunya akan merasakan suka dukanya membuat pergelaran dan mencari penonton sebagai apresiatornya. Dari kegiaatan tersebut siswa akan mempunyai kompetensi empati dan simpati yang pada ahirnya nilai tersebut akan terinternalisasi dan dapat menjadi perangkat nilai yang tercermin dalam berperilaku mengapresiasi karya seni.

2.      Kegiatan pameran di sekolah penting dilakukan agar siswa menjadi pelaku aktif dalam kegiatan apresiasi karya seni di sekolah.

3.      Sebelum melakukan apresiasi di luar sekolah sebaiknya guru memberi pengarahan bagaimana cara mengapresiasi yang baik, sebagai contoh tidak ribut, tidak hilir mudik, tidak mengobrol, mematikan alat-alat komunikasi yang dapat menimbulkan suara, dan lain sebagainya.

4.      Guru mengawasi siswanya ketika berapresiasi di tempat pertunjukkan agar situasi  dapat terkendali.

5.      Memberi teguran bahkan hukuman pada siswa yang membuat gaduh ketika berapresiasi.

6.      Kepala sekolah melakukan pengawasan pada PBM yang dilakukan oleh guru dan murid di dalam kelas seraya mencocokan kurikulum yang tercermin dalam materi pelajaran dengan kompetensi yang harus dikuasai siswa.

7.      Di keluarga sebaiknya anak-anak dibimbing dan diberi pengertian sehingga sikap dan perilaku anak-anak dalam mengapresiasi pertunjukkan seni dapat mengambil makna dan nilai.

Tentu saja, jika perangkat-perangkat nilai tersebut dapat dikuasai oleh siswa tidak akan terjadi lagi pertunjukan seni yang diberhentikan di tengah-tengah berlangsungnya pertunjukan, melainkan siswa dapat bersikap apresiatif dan dapat mengambil nilai dari tema yang diangkat dalam pertunjukan.

Penulis, koreografer, Dosen Pendidikan Seni Tari Universitas Pendidikan Indonesia.

   
   

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: